Selamat datang!

Kabinet Kolaborasi Madani

Visi dan Misi

Tidak ada perubahan tanpa adanya tujuan jelas dan aksi nyata. Here we are.

92

VISI

Kolaborasi menuju UNJ madani untuk bumi pertiwi

70

MISI

  • Berkolaborasi dengan BEM Fakultas dan jurusan dalam rangka optimalisasi pelayanan terhadap mahasiswa pada aspek kemayarakatan, kemahasiswaan, dan birokrasi.
  • Gerakan kritis dan strategis berbasis kajian melalui digitalisasi media yang berkelanjutan.
  • Menumbuhkan aktivitas riset dan pengembangan mahasiswa melalui apresiasi dan publikasi ilmiah serta membudayakan iklim ilmiah dalam gerakan BEM UNJ.
  • Memperkuat eksistensi BEM UNJ yang mengakar dan kokoh sebagai motor penggerak dalam mengawal isu internal maupun eksternal kampus.
  • Mengadakan pengaderan siswa sekolah menengah atas atau sederajat sebagai usaha mewujudkan motto UNJ sekaligus meningkatkan citra UNJ.

Swara on Youtube

Official Channel

Press Release Swara

Our News Update

  • Napak Tilas Gerakan Mahasiswa Dalam Era Pemerintahan Reformasi-Revolusi

    Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan aktif kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi dilakukan untuk meningkatkan kecakapan dan peningkatan, intelektualitas, kapabilitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Ketika meneropong gerakan pemuda khususnya mahasiswa di Indonesia abad ke-19, seperti di awal tahun 1908 sosok pemuda bernama Budi Utomo mampu menghembuskan setiap nafasnya untuk membangkitkan semangat pemuda. Sosoknya menjadi wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Persatuan dalam kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, akhirnya munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indpnesia (PPPI). Bahkan kemerdekaan Negara Indonesia pun tak lepas dari peran pemuda dan mahasiswa, salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok. Sejarah yang tak akan pernah hilang dari gerakan mahasiswa yaitu Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya “KKN” (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya.

    Lalu, saat ini. Mengapa mahasiswa yang dahulu dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, tidak banyak menghasilkan tokoh politik nasional atau pimpinan negara saat ini? padahal pemuda dan mahasiswalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting disepanjang sejarah Indonesia serta berani tampil menjadi social control dalam kebijakan tokoh politik nasional. Mengapa sekarang tidak?.

    Pertanyaan tersebut mencoba menelusuri dan mencari apa yang terjadi sebenarnya ketika dalam gerakan mahasiswa atau pemuda di era reformasi ini. [Dahulu] para mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orde baru saat ini. Mereka tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar, yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif dan tokoh figure yang tak banyak membuat perubahan dan hanya menciptakan pencitraan. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar, karena masih tetap bergentayangan dan ketergantuan di pusat-pusat pengambilan keputusan.

    [Hari ini] Setelah hampir 18 tahun masa reformasi, banyak sekali kegundahan rakyat terhadap aktivisme gerakan Mahasiswa. Mitos mahasiswa sebagai agent of change menjauh dari realita yang ada. Para mahasiswa lebih senang dan bangga jadi juru tepuk tangan di acara-acara TV atau duduk manis di pusat perbelanjaan atau di tempat nongkong modern yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil. Di sana mereka dapat leluasa berbicara tentang artis idola, film populer serta trend atau mode pakaian terbaru, dan tak lupa mencibir setiap kali ada demo yang memacetkan jalan atau tak terima ketika upah buruh naik yang membuat para buruh dapat hidup layak. Di sisi yang lain gerakan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan cenderung tersandera dengan isu-isu elit dan virus merah jambu yang menyetir media massa nasional. Peran mahasiwa sebagai Agent of change, Iron Stock, Social Control dan Moral Force menjadi pertanyaan besar saat ini. Mereka seringkali terjebak pada romantisme masa lalu, seperti seorang ABG yang ditinggal kekasihnya kemudian gagal move-on. Prestasi bagi mereka adalah ketika berhasil membuat event besar dengan mendatangkan artis papan atas. Kalau begitu apa bedanya mahasiswa dengan event organizer (EO)? Coba hitung berapa banyak organisasi mahasiswa yang tetap berada di rel awalnya untuk mengasah para intelektual mudanya yang mampu memperjuangkan kehidupan rakyat dan mengkritisi penguasa? Tidak banyak, namun itu benar adanya.

    Jelas sudah landasan hukum yang seharusnya gerakan kritis mahasiswa itu tetap membara, berikut saya akan memaparkan point penting dalam berpendapat :

    • Undang-Undang Dasar 1945

    Pasal 28

    Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang. 

    Pasal 28 E

    (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

    (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

    Pasal 28F

    Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

    • Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

    Pasal 19

    Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan menyatakan pendapat; hak ini mencakup kebebasan untuk berpegang teguh pada suatu pendapat tanpa ada intervensi, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan tanpa memandang batas-batas wilayah.

    • Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

    Pasal 23

    (2) Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.

    Pasal 25

    Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Pasal 44

    Setiap orang baik sendiri maupun bersama-sama berhak mengajukan pendapat, permohonan, pengaduan, dan atau usulan kepada pemerintah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan efisien, baik dengan lisan maupun dengan tulisan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    • Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik

    Pasal 19

    1. Setiap orang berhak untuk mempunyai pendapat tanpa diganggu.
    2. Setiap orang berhak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat; hak ini termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi dan ide apapun, tanpa memperhatikan medianya, baik secara lisan, tertulis atau dalam bentuk cetakan, dalam bentuk seni, atau melalui media lainnya, sesuai dengan pilihannya.
    • Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum

    Pasal 1 ayat (1)

    1. 1.    Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Pasal 2 ayat (2)

    Setiap warga negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak asasi manusia yang secara tegas dan secara hukum telah dijamin dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Kemerdekaan menyatakan pendapat tersebut merupakan perwujudan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita ini negara demokratis, bukan negara otoriter. Kemerdekaan menyampaikan pendapat tersebut sangat penting untuk dijamin karena merupakan sarana warga negara untuk mempertahankan hak asasinya ataupun menuntut haknya sebagai rakyat, yang seharusnya dipenuhi oleh negara kita, serta mengawasi jalannya pemerintahan serta memberikan saran dan rekomendasi terhadap segala kebijakan yang ada apabila tidak mensejahterakan rakyat Indonesia. Karena logika sederhana berfikir kita sebagai mahasiswa adalah ketika perasaan rakyat termaktub dalam setiap hati mahasiswa, ketika rakyat susah maka mahasiswa merasakanya. Sesungguhnya mahasiswa itu adalah rakyat, jika terdapat peraturan internal dari suatu instansi, universitas, ataupun perusahaan yang melarang penyampaian pendapat di depan umum, tentunya peraturan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

    Gerakan mahasiswa juga harus belajar dari perjuangan gerakan mahasiswa pada masa sebelumnya. Mereka harus bersikap tegas dan taktis dengan berbagai kajian dan tidak hanya riuh dengan selebrasi politik pada zaman politik modern di era kepemimpinan Revolusi Mental saat ini. Tidak hanya bergerak dalam dunia maya seperti dengan gerakan petisi online, akan tetapi bergerak dalam aksi nyata dengan melakukan bentuk pernyataan sikap. Artinya, gerakan mahasiswa selain berkutat dengan teori, mereka harus turun ke massa rakyat melalui strategi live-in dengan melakukan aktivitas sosial-politik demi menciptakan kesadaran politik pada massa dan keyakinan atas kekuatannya. Melakukan berbagai kajian dan membentuk media propaganda seperti Koran dan Media online menjadi penting untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran massa khususnya menjadi pencerdasan untuk Rakyat Indonesia. Kebijakan pemerintah yang masih terjerat dalam cukong dan penguasa asing khususnya china. Membuat hutang kian merajalela, negara kita bengkak dan penuh luka yang sudah jelas adanya namun tidak ada kesadaran untuk mengobatinya. Karena jaminan dari negara asing yang meyakinkan pemerintah kita saat ini agar Ekonomi negara Indonesia tetap stabil, membuat ketergantungan politik. Maritim yang di unggulkan pada era ini juga belum terlihat taringnya.

    MAHASISWA, itulah satu kata yang penuh arti, makna dan harapan untuk menerjemahkan perubahan dalam tatanan negara Indonesia [Hari ini] dan [Nanti]. Mereka yang dapat turut membantu perjuangan rakyat dengan membentuk blok historis melalui peranya sebagai Agent of change, Iron Stock, Social Control dan Moral Force. Dan hal utama adalah untuk menghidupkan kembali “Perjuangan untuk menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dalam era Revolusi Mental saat ini”.

    Hidup Mahasiswa !!!  Hidup Rakyat Indonesia !!!

    Oleh Rizky Fajrianto

    Ka.Dept Sospol BEMUNJ 2016

    Selengkapnya
    bemunjorgNapak Tilas Gerakan Mahasiswa Dalam Era Pemerintahan Reformasi-Revolusi
  • Mengukir Semangat Kebangkitan Nasional

    Memaknai Kebangkitan Nasional Indonesia saat ini adalah dengan tetap menjaga semangat, integritas dan membangun nasionalisme agar menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Indonesia lahir dari masa dimana ancaman dan tekanan dari para penjajah dan penguasa dengan bebas melakukan penjajahan kekuasaan. Maka karena dasar persatuan dan kebangkitan yang di pelopori oleh pemuda, Indonesia bangkit dari kegelapan.

                Semangat nasionalisme melalui empat Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika menjadikan Indonesia lebih bermartabat di mata negara lain. Tapi kita juga menyadari bahwa rasa nasionalisme dan patriotisme yang terangkum dalam wawasan kebangsaan sudah semakin luntur didalam masyarakat, akibat kemajuan teknologi melalui media massa yang tanpa disadari telah memasukkan budaya yang tidak sesuai dengan kultur bangsa. Media seperti layaknya pedang yang bisa membunuh siapapun musuhnya yang lemah. Jika saat ini rasa kebangsaan tidak kita miliki, maka bisa di pastikan kita akan terbunuh oleh perkembangan zaman yang tidak di sertai dengan kesiapan. Perkembangan zaman yang begitu pesat dan modern membuat negara ini harus lari untuk mengejar ketertinggalan.

                Negara Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke ini memiliki banyak keanekaragaman budaya, adat, suku dan bahasa. Penduduk yang hampir mencapai 252 juta orang di Indonesia menuntut terpenuhinya kebutuhan makanan, sandang, kesehatan, pendidikan, hingga lapangan kerja. Jumlah populasi yang begitu besar pula yang membuat peluang terjadinya perpecahan dalam negara ini. Kita terlihat besar tapi kecil, terlihat kaya tapi miskin, terlihat merdeka tapi terjajah.

                Jika kita kembali kepada sejarah, kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang memberikan rekomendasi dari ide-ide dan gagasan pemuda yang di berikan kepada pemerintah untuk perubahan bangsa.

                Kemajuan teknologi, membuat keadaan masyarakat lebih rentan disusupi faham-faham dan budaya yang mengikis rasa kebangsaan. Budaya lokal yang diharapakan menjadi benteng terakhir juga mulai terkikis dan tergantikan dengan budaya dari luar yang masuk begitu mudah. Maka dari itu diperlukan rasa kebangsaan yang tinggi agar Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang menjadi slogan belaka, tetapi benar-benar dapat menjiwai perilaku seluruh rakyat Indonesia. Salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa kebangsaan adalah “Kebangkitan Nasional”, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesaia (NKRI) seharusnya pemerintah memberikan perlakuan yang sama terhadap rakyatnya dari Sabang sampai Marauke, bila rakyat di satu wilayah sejahtera maka selayaknya rakyat di wilayah lainpun sejahtera agar asas “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

                Perubahan itu terjadi karena ada pergerakan. Revitalisasi seluruh nilai-nilai Kebangkitan Nasional yang termaktub dalam kemeredekaan Indonesia pada dasarnya mengajarkan soliditas kebangsaan sebagai panduan yang harus segera diwujudkan dalam tata kelola ekonomi, sosial, politik dan budaya demi mencapai Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Untuk itu, pembangunan bangsa melalui dasar Pancasila itu sangat tepat, karena akan melahirkan penerus yang juga memiliki dan memberikan sesuatu yang bermakna untuk Indonesia.

    Selengkapnya
    bemunjorgMengukir Semangat Kebangkitan Nasional
  • Membangun Ibukota Tapi Menjatuhkan Rakyat Jakarta

    Kepentingan yang terbungkus rapih oleh kebijakan pemerintah membuat banyak problematika. Seharusnya pemerintah lebih jelih dan teliti dalam mengambil kebijakan, bukan karena kepentingan tetapi berlandaskan kebutuhan. Akhir-akhir ini menjelang panasnya issu PILKADA yang berada di Ibu Kota Negera Idonesia, yaitu Provinsi DKI Jakarta. Membuat semua elemen yang berkepentingan didalamnya menunjukan sosok sebagai pahlawan. Dengan dalih pembangunan Taman Kota, Penghijauan dll. Sehingga penggusuran pun menjadi langkah dan solusi tepat menurut mereka yang mempunyai kepentingan.

    Menolak lupa adalah hal terpenting untuk mengupas kembali lembaran sejarah yang ada. Coba kita lihat bagaimana kondisi Bumi Pertiwi kita saat ini khususnya Provinsi DKI Jakarta yang menjadi sorotan Indonesia bahkan Dunia. Gedung pencakar langit yang begitu megah dan gagah berdiri di berbagai sudut Ibu Kota, tapi ternyata di dalamnya masih ada suara jeritan rakyat yang menangis.

    Masih melekat dalam benak masyarakat Jakarta, beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 29 Februari 2016, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur dan Kalijodo, Jakarta Barat. Bulan ini, tepatnya senin (11/04/2016) wilayah Pasar Ikan dan Luar Batang, Jakarta Utara, mendapat giliran yang digusur oleh Pemprov DKI.

    Pemprov DKI Jakarta, di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sudah kesekian kalinya melakukan aksi penertiban atau penggusuran. Pemprov melakukan penggusuran dengan alasan untuk perbaikan tata kota dan normalisasi sungai untuk mencegah banjir.

    Ternyata penggusurab terakhir tidak meninggalkan solusi yang tepat. Seperti di Pasar Ikan dan Luar Batang Jakarta Utara. Ahok akan membangun kawasan itu menjadi tempat wisata bahari dan religi di sekitar Masjid Luar Batang dan Penggusuran dilakukan di tiga lokasi di kawasan Luar Batang, yakni Kampung Akuarium, Pasar Ikan, dan sekitar Museum Bahari. Faktanya hingga saat ini, baru 331 Kepala Keluarga (KK) yang mendaftarkan diri untuk mendapat rusun. Meski demikian, tidak sedikit warga Pasar Ikan yang memilih bertahan karna berbagai alasan diantaranya : Rumah Susun yang belum semuanya siap ditampung dan biayanya terlampau mahal, juga karena tidak ada mata pencaharian yang tetap.

    Seharusnya pemerintah Pemprov DKI, sebelum merekolasi harus sudah menyiapkan tempat yang layak untuk para korban penggusuran. Agar tidak ada kedzoliman yang terjadi atas segala kebijakan yang di keluarkan. Jika melihat realita, Pemerintah dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta di pilih oleh rakyat. Yang seharusnya representasi kebijakan yang di keluarkan harus dari kebutuhan rakyat. Bukan karena pencitraan apalagi kepentingan. Ditambah kasus yang baru ini mencuat yaitu mundurnya Rustam Effendi menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya, dia dituding sang bos, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai pendukung Yusril Ihza Mahendra karena tidak menyegerakan penggusuran di kawasan Jakarta Utara. Tak tahan dengan panasnya omongan Ahok, Rustam pun memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Wali Kota Jakarta Utara, Senin 25 April 2016.  Semoga pemerintah bisa berkolaborasi untuk mensejahterakan rakyat bukan bermain atas nama rakyat atau menindas rakyat.

    Selengkapnya
    bemunjorgMembangun Ibukota Tapi Menjatuhkan Rakyat Jakarta

Kabinet Kolaborasi Madani

  • IMG_2672

    Likes

    Teaching

    Bagus Tito Wibisono Ketua BEM UNJ

    Bagus Tito Wibisono, lahir di Jakarta, 27 Juni 1994. Lelaki yang kerap disapa bagus ini merupakan lulusan dari SMAN 2 Bogor dan sekarang menempuh perkuliahan di Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UNJ. Sudah berkecimpung dalam dunia organisasi sejak SMP mulai dari PMR, Marching Band, sampai ekstrakurikuler olahraga seperti Futsal, Basket dan Volly. Pada masa SMA nya bahkan pernah menjadi Ketua OSIS, Ketua PMR bahkan Koordinator Wilayah Jawa Barat Forum OSIS Nusantara (FON). Selain prestasinya dalam organisasi, Ia juga pernah menjadi Juara 3 Lomba Cepat Tepat UUD RI 1945 tingkat Provinsi, Juara 3 Lomba Debat tingkat Provinsi dan juga menjadi utusan mewakili SMAN 2 Bogor dalam perlombaan Siswa Berprestasi Kota Bogor. Selain itu ia juga pernah menjadi Semi Finalis dalam Ajang Indomie Jingle Dare 2011 dan Juara 3 Festival Band Brimob Nasional. Di kampus, ia pernah tergabung dalam Community of Marine Conservation Acropora (CMC Acropora) yaitu sebuah komunitas pencinta laut dan biota di dalamnya, sebagai Staf Marine Development and Science, lalu Tank MIPA sebagai Staf Propaganda, dan juga BEM Jurusan Biologi serta FMIPA sebagai Ketua Umum.

  • IMG_2669

    Says

    "Bergerak Untuk Perubahan"

    Septian Dicky Pratama Wakil Ketua BEM UNJ

    Septian Dicky Pratama, lahir di Jakarta 20 September 1994. Menempuh masa-masa SMA nya di SMAN 96 Jakarta dan sekarang menjalani perkuliahan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP UNJ. Pernah mengikuti ektrakurikuler Pencak Silat di sekolahnya bahkan sempat mengharumkan nama sekolahnya dengan menjuarai beberapa turnamen tingkat kotamadya sampai provinsi. Di kampus, ia tergabung dalam relawan Comdev UNJ, Green Force UNJ, Musholla Al Fatah PGSD, Rumah Belajar Ceria, BEMJ PGSD dan BEM FIP sebagai Ketua Umum bahkan IKMA PGSD (Ikatan Mahasiswa PGSD) Indonesia sebagai Wakil Ketua. Di sela-sela organisasinya, dia juga banyak menoreh prestasi yaitu Juara II Lomba Debat Pendidikan Nasional di Makassar, Juara I Lomba Debat Pendidikan dalam acara Educompas PGSD dan akhirnya mendapat penghargaan di UNJ Award 2015.

Quotes

  • "Bergerak atau tidaknya mahasiswa, perubahan harus tetap hadir memberikan kebaikan di tengah masyarakat walupun caci maki mengiringi."

    Ronny Setiawan
  • "Berjalanlah pada pintu dimana kau memulai pertemanan, lalu ukirlah tentang keindahan jiwa"

    Irvandi Faishal

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas

Badan Eksekutif Mahasiswa UNJ merupakan Badan Eksekutif yang meliputi seluruh jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas.

  • FT
  • FMIPA
  • FIS
  • FIP
  • FIK
  • FE
  • FBS
bemunjorgHomepage